Efek rumah kaca adalah hasil dari interaksi antara sinar matahari dan lapisan gas – gas rumah kaca yang ada di atmosfir bumi yang berada sekitar 100 km di atas permukaan bumi. Sinar matahari tersusun atas berbagai macam jenis cahaya yang biasa dikenal sebagai spektrum cahaya antara lain sinar tampak, sinar infra merah, sinar gamma, sinar X, dan sinar yang paling berbahaya yaitu sinar ultraviolet. Ketika sinar matahari melewati atmosfir bumi, 25 persen dari seluruh energi sinar yang terkandungnya akan dipantulkan ke ruang angkasa oleh awan dan partikel lainnya yang ada di atmosfir. Sekitar 20 persen lainnya diserap oleh atmosfir. Misalnya, lapisan terluar atmosfir menyerap sinar gamma dan sinar X matahari. Sinar ultraviolet matahari diserap oleh lapisan ozon yang terletak 19 – 48 km di atas permukaan bumi.
Sekitar 50 persen energi matahari yang sebagian besarnya dalam bentuk sinar tampak melewati atmosfir dan sampai ke permukaan bumi. Tanah, tumbuhan, dan lautan yang ada di permukaan bumi menyerap sekitar 85 persen dari 50 persen energi matahari tersebut dan sisanya dipantulkan lagi menuju atmosfir oleh salju, es dan gurun pasir. Lebih lanjut lagi, sebagian dari radiasi sinar matahari yang diserp oleh permukaan bumi berubah menjadi energi kalor berupa radiasi sinar inframerah dan energi infra merah ini yang nantinya dilepaskan lagi menuju atmosfir bumi.
Gas – gas tertentu di atmosfir bumi seperti uap air, karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida menyerap energi radiasi inframerah ini, sehingga mencegah sinar inframerah ini terlepas ke ruang angkasa. Ini menyebabkan gas – gas tersebut sekarang yang menjadi panas dan balik memancarkan radiasi inframerah ke segala arah. Sebagian energi radiasi inframerah tersebut menuju ke ruang angkasa dan sebagian lagi lainnya berbalik lagi menuju permukaan bumi yang nantinya kembali memanaskan bumi. Nah, inilah yang disebut efek rumah kaca, yaitu kembalinya energi matahahari dalam bentuk radiasi infra merah ke permukaan bumi. Ketika energi yang dilepaskan matahari dan masuk ke atmosfir bumi seimbang dengan energi yang diserap permukaan bumi dan energi yang terlepas lagi ke ruang angkasa, temperatur bumi akan konstan dan stabil. Kestabilan suhu bumi inilah yang sangat dibutuhkan makhluk di bumi agar bisa tetap hidup.
Gas – gas di atmosfir yang memperangkap energi matahari inilah yang berlaku seperti kaca pada rumah kaca di perkebunan – perkebunan. Mereka memperbesar kemungkinan energi matahari yang terperangkap dan meperkecil kemungkinan energi tersebut terlepas keluar. Oleh karena itu, gas – gas tersebut disebut gas – gas rumah kaca dan prosesnya disebut efek rumah kaca. Tanpa has – gas tersebut, energi matahari yang masuk ke bumi akan mudah terlepas. Ini dapat membuat suhu bumi menjadi -19 derajat celcius, padahal suhu rata – rata bumi sekarang yang layak ditempati adalah 15 – 25 derajat celcius.
Ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya gas – gas rumah kaca dan efek rumah kaca tidak merugikan bagi kehidupan kita, bahkan sangat menguntungkan sehingga manusia dapat hidup sampai sekarang ini
Namun dewasa ini, akhir akhir abad ini, jumlah karbon dioksida di atmosfir bumi telah bertambah secara mengejutkan karena semua orang, masyarakat menggunakan dan membakar bahan bakar minyak. Selain itu banyaknya negara yang berevolusi ke negara industrial semakin memerparah keadaan. Rata – rata suhu global telah naik sekitar 0,6 derajat celcius 1 abad terakhir ini. Para ilmuwan memperkirakan suhu global akan terus naik sekitar 1,4 – 5,8 derajat celcius sampai 1 abad yang akan datang. Jika kita lihat, dalam 2 abad saja suhu global bumi telah naik 2 – 6,4 derajat celcius. Padahal sebelum itu, suhu global bumi hampir selalu konstan. Bahkan mulai dari jaman es sampai abad ke 19, suhu global bumi hanya naik 2,2 derajat celcius.
Inilah yang disebut sebagai efek rumah kaca yang berlebihan. Efek rumah kaca bisa jadi sangat merugikan apabila gas – gas rumah kacanya terlalu banyak. Ini dapat menyebabkan banyak masalah antara lain, para ilmuwan memperikirakan 40 persen lapisan es di arktik akan mencair, ketinggian air laut yang semakin tinggi. Ini membuat banyak pulau kecil yang dapat tenggelam, dapat menyebabkan banjir khususnya untuk kota – kota yang berada di dekat pantai seperti Jakarta. Banyak jenis tumbuhan dan hewan yang akan punah dan banyak masalah lainnya yang akan kita hadapi jika kita terus membiarkan hal ini tersu terjadi.
Oleh karena itu, marilah kita bersama – sama mengurangi penggunaan bahan bakar minyak untuk mengurangi gas – gas rumah kaca !!!!!!
"BANTU KEMBANGKAN BLOGKU INI DENGAN CARA MENGKLIK IKLAN YANG ADA DI BLOGKU INI"





0 comments:
Poskan Komentar